Recent Posts

Saturday, 7 September 2013

Mengenang Alm. Kakek KH Abdul Kadir Abraham

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun..
"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."
(QS. Al Baqarah : 156)

Tepat pada tanggal 24 Januari 2013 atau 12 Rabiul Awal 1434 Hijriah KH. Abdul Kadir Abraham dipanggil menghadap Allah SWT. Beliau adalah kakek saya dari sebelah mama. Keluarga kami sangat merasa kehilangan atas kepergian beliau yang menutup usia 86 tahun, 11 bulan tepat pada jam 08.00 WITA. Pada saat sakaratul maut, wajah beliau tenang dan bercahaya  dengan suara sangat pelan, seperti berbisik hanya terdengar lafadz Al-Qur’an, sedetik kemudian beliau melipat kedua tangannya di atas dada. Tangan kanan diatas punggung tangan kiri, seperti orang mau sholat. 

Kakek adalah salah satu pendiri Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAU), mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Utara, tokoh Muhammadiyah Sulawesi Utara, mantan ketua Pengadilan Tinggi Agama Manado.

Keluarga besar kami sangat merasa kehilangan akan sosok beliau yang menjadi teladan dan panutan. Kakek meninggalkan 10 orang anak, 25 cucu, dan 21 cece. Saya hingga kini masih teramat sedih, masih meneteskan airmata mengingat almarhum kakek yang setiap sholat selalu saya do’akan.


Saat prosesi pelepasan almarhum sebelum disholati di Masjid Nurul Huda, nampak pejabat pemerintah Sulut, pejabat Kota Manado, pimpinan dan anggota Ormas Muhammadiyah, NU, Sarikat Islam, anggota Deprov Sulut, anggota Dekot Manado, pimpinan ormas dan organisasi politik hadir.
(Manado Post)

“Luar biasa kharismatik almarhum. Biasa hanya lima shaf. Tapi ini semua shaf terisi. Dan baru kali ini kaum ibu ikut sholat jenazah.”
(Agus Abdullah - Ketua BKPRMI Manado)

“Papa meninggal sekitar pukul 08.00 WITA, di usia 86 tahun. Kami merasa kehilangan sosok beliau dan segala kebaikan akan selalu dikenang.”
(Hj. Nida’ul Hasanah Abraham – Anak ke-8)

“Beliau telah mengatur bagaimana prosesi setelah meninggal dan itu telah lama diatur.”
(Alfian Djapai – Keluarga)

“Semasa hidup, beliau begitu gigih menjaga nilai kurukunan dan kemajemukan di Sulut. Nilai kerukunan yang ditinggalkan sangat positif untuk diadopsi oleh seluruh warga kota. Kami sangat berterima kasih atas warisan ini.”
(Dr. GS Vicky Lumentut – Walikota Manado)

“KH. AK Abraham memiliki dua kualifikasi yaitu berilmu dan berahklak, tidak banyak orang yang memenuhi kualifikasi ini. Kiai Abraham sangat mengamalkan filosofi semakin berilmu semakin merendah.”
(Amin Lasena, Sekretaris MUI Sulut)

“Beliau sangat tawadhu dan penuh kasih sayang serta baik kepada semua orang.”
(KH Rizal M Nur – Tokoh Agama)

“Kiai lama menetap dan mendakwahkan ilmunya di desa yang dikenal dengan Mangoa. Kami sudah seperti keluarga.”
(Jack Yusuf – Tokoh Masyarakat)
 
“Meski almarhum telah menjadi milik seluruh masyarakat Sulut, tapi kita di Minahasa Tenggara telah kehilangan tokoh besar, tokoh panutan yang telah memberikan semua waktu hidupnya dalam solidaritas keagamaan.”
(Ir Adrianus Tinungki - Sekretaris Kabupaten Minahasa Tenggara)

“Beliau adalah ahlaqul qarimahnya, akhlak yang baik sesama manusia.”
(Mahyudin Damis - Tokoh Muhammadiyah Sulut)







2 comments: