Recent Posts

Thursday, 3 September 2015

Semoga Khusnul Khotimah, Nenek

Tak ada yang lebih menyedihkan ketika mendapat berita anggota keluarga ada yang sakit, apalagi saya berada di luar kota. Kabar sakitnya nenek diberitahu oleh sepupu saya - 25 Juni 2015 ketika itu puasa Ramadhan sudah berjalan hari ke-8. Saya menghela nafas panjang. Pelan-pelan, beberapa kali. Air mata saya tak terbendung, tentu sudah mulai merasakan bagaimana keadaan disana. Saya mulai berkemas barang-barang sembari menelepon orangtua, yang ternyata akan terbang siang itu juga ke Manado.

Saya kemudian dikabarkan nenek masuk RSAD Robert Wolter Monginsidi (RS Teling) ditemani tante, om dan saudara lainnya. Saya pengen banget pulang hari itu juga atau besoknya, tapi sudah terlanjur membeli tiket tanggal 11 Juli. Beberapa kali saya bernegosiasi dengan orangtua saya, ingin pulang nemenin nenek, liat keadaan nenek. Tapi kata orangtua sebaiknya nanti saja, pulang sesuai dengan tiket yang sudah dibeli.

Hari-hari setelahnya saya tidak bisa tidur malam, HP sengaja saya letakkan disamping saya ketika tidur. Saya ingin terus mengetahui kabar terkini nenek, ngobrol dengan sepupu tanya ini itu, minta fotoin kondisi nenek. Tanggal 11 Juli saya bertolak ke Manado, flight malam. Besok paginya saya menjenguk nenek, saya langsung mencium beliau, duduk disampingnya, memegang erat tangannya. Begitu setiap hari. Suatu saat ketika Mama menyuruh memutar murotal di HP, ketika ditanya oleh Mama nenek merespon dengan sangat baik. Kami tersenyum, Alhamdulillah.

Tak terasa Lebaran sudah di depan mata. Malam takbiran entah kenapa saya tak bisa tidur hingga pukul 04:30 pagi menjelang adzan subuh. Saya tidak ikut sholat Ied karena sedang haid. Setelah adzan, saya mencoba memejamkan mata, tidak juga menunjukan tanda-tanda mengantuk. Terus terjaga dan baru sekitar pukul 05:30 pagi saya tertidur.

Sedih menceritakan hal yang selanjutnya terjadi :’(

Saya kaget mendengar suara tangisan Mama yang terdengar sampai ke atas. Sontak saya langsung turun, saya dikunci dari luar pas mobil mau keluar. Saya ketok-ketok jendela, untung Papa belum naik ke mobil. Saya tanya ada apa. Papa bilang nenek meninggal. Saya memeluk erat Papa sambil menangis tersedu-sedu, tidak peduli warga sekitar yang lalu lalang di depan rumah. Tak lama kami bergegas menuju RS, sampai sana kami menangis memeluk nenek satu per satu. Beberapa saat kemudian, berdatangan keluarga yang lain, tetangga, sampai ruangannya penuh dan mobil ambulance pun siap. Nenek disemayamkan di rumah Manado sebelum dikebumikan di Belang, tanah kelahiran beliau, kampung halaman kami. Nenek dimakamkan tepat disamping makam Kakek.

Nenek menghadap Allah bersamaan dengan berlalunya bulan suci Ramadhan, tepat hari Jum’at 1 Syawal 1436 H. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pukul 07.38 pagi disaat seluruh umat muslim bertakbir, bertahlil, dan bertahmid di hari Idul Fitri.



0 komentar:

Post a Comment